Mar 21, 2014

Kebetulankah?

Lahir di desa yang sama, di tanggal yang sama, dan bertetangga pula membuat aku tak habis pikir. Bagaimana bisa dan apa dibalik semua itu aku sering bertanya-tanya dan jawaban terakhir yang ada di benakku
 "Ah, Kebetulan"
Ya, aku adalah Ramona, dan Nadia adalah temanku. kami berdua adalah gadis yang berasal dari kampung halaman yang sama, lahir di hari yang sama dan menempuh SD, SMP, dan SMA di tempat yang sama pula. Ada hubungan kekeluargaan namun dari kakek buyut. Namun satu hal yang sangat melegakan kami berdua berasal dari marga (Adat batak) yang berbeda. Sehingga memungkinkan kami tidak akan menyukai laki-laki yang sama pula.

Mulai dari kecil, kami terkesan seperti bersaing dan bersaing. Betapa tidak kami dari sekolah yang sama, ketika SD aku akan mendapat peringkat 1 dan dia akan mendapat peringkat kedua dan terkadang kami mendapat prestasi yang sama pula. kemudian untuk melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Pertama, kami berdua masuk ke SMP Budi Mulia, kami berdua bebas test karena kami mendapatkan juara pada sekolah dasar. Pada saat disini pula persaingan tidak berhenti, sebenarnya aku sendiri tidak menganggapnya seperti saingan akan tetapi aku berpikir orang tua kami yang bersaing, anak siapa yang palingg baik dan akan menceritakannya keorang-orang satu kampung ataupun tetangga sebelah.

Saat SMP aku mendapat juara paralel dan Nadia tidak sehingga orang tuanya tidak dipanggil ke panggung, dan setelah pulang kerumah aku mendengar ternyata Nadia dimarahi oleh orang tuanya dan membuatku tak habbis pikir. Seperti biasa pula ayahku akan mengoceh kesemua orang bahwa aku mendapat juara. 
Tiba saatnya untuk memasuki SMA, dan lagi-lagi kami kesekolah yang sama. Aku bebas test karena aku mendapat juara waktu SMP dan Nadia masuk melalui jalur test, dan kami pun masuk SMA Budi Mulia P.Siantar.

saat akan menentukan jurusan mana yang akan dipilih dan di Universitas mana yang akan ditargetkan, aku sangat berharap kami tidak di Universitas yang sama dan memiliki jurusan yang berbeda pula. Ternyata kebersaman kami diakhiri pada saat lulus SMA karena ternyata Nadia lulus di Univ. Brawijaya Malang dan aku di Univ. Sumatera Utara. aku sering berpikir merasa kalah dengan Nadia saat memasuki bangku perkuliahan, karena aku sungguh berharap lulus di Universitas yang ada di Pulau Jawa,  saat sekolah aku sering merasa lebih unggul. Tapi itulah cara Tuhan, kita terkadang diatas dan terkadang dibawah, kita manusia hanya bisa menerima dan mensyukurinya. Dan sangat kusadari kami sangat dekat dan aku tak enggan untuk menyebut dirinya sahabat, walaupun terkadang ada kesalahpahaman, yah itulah namanya teman. Terkadang aku merindukannya karena Nadia jarang pulang kampung, sedangkan aku setiap semester pulang kampung, aku berpikir orang-orang satu kampung sudah bosan melihat aku pulang. Setiap aku pulang kampung orang tua Nadia akan menanyakan IP (Indeks Prestasi) ku, Entah sampai kapan perasaan bersaing itu akan ada diantara kami baik orang tua kami maupun kami berdua, karena saat ini pula aku sering bertanya dalam hati.
"Siapa Lebih dulu Wisuda?"
"Pekerjaan siapa lebih baik?"
 masih banyak pertanyaan lain lagi.
Tetapi tak peduli apapun itu, aku menyayangi dia, dan saat ini pun aku sedang merindukan teman lamaku. "Kebetulan kah, aku lahir, tinggal, dan sekolah yang sama dengan Nadia?" tentu bukan suatu kebetulan, karena Tuhan punya rencana.
Semoga Tuhan punya rencana yang indah akan aku dan Nadia.

No comments:

Post a Comment